Cute Plant Dancing Kaoani Juli 2013 | Di Bawah Gerimis

Selasa, 09 Juli 2013

Label

Diposting oleh Wulan Mardianas di 07.32 0 komentar
Ingat celetukan salah seorang tetangga bertahun-tahun lalu (Benar-benar sudah bertahun-tahun karena waktu itu saya masih kelas 3 SMP sedangkan tetangga saya itu kelas 3 SMK, sekarang mah sudah punya anak TK). Gak ingat pasti waktu itu kita lagi ngomongin apa, ujug-ujug sampailah kita pada bahasan band yang lagi booming ketika itu, Peterpan. Oke-oke, sekarang mereka sudah ganti nama menjadi Noah. Gak tahu gimana awalnya, yang saya ingat, saya bilang begini, “Aku gak suka sama Peterpan.”

Eh si tetangga itu nyemprot saya dengan gaya sok-sokan, “Jaman sekarang kok gak suka Peterpan. Hari gini yang gak suka Peterpan itu gak gaul.”

Bodohnya saya, saat itu cuma bisa terbengong-bengong dengan mulut megap-megap. Saya langsung protes dalam hati, saya kan memang gak suka Peterpan, tapi saya suka Green Day, My Chemical Romance, Good Charlotte sama Muse -___- (Andai memang itu arti 'gaul' yang dia maksudkan)
Ahh, saya orang yang buruk, tidak bisa mempertahankan apa yang saya yakini dengan argumen-argumen keren.
Tapi Mbak Tetangga yang terhormat, meski saya gak suka Peterpan, bukan berarti saya gak tahu-menahu soal Peterpan. Saya bahkan yakin, tetangga saya itu masih newbie jadi fans-nya Peterpan, padahal saya tahu tentang Peterpan sejak kurang lebih satu tahun sebelum tuduhan gak gaul itu terjadi.

Saya jadi berpikir, kira-kira apa motif di balik tudingan itu? Oke, saya akan mencoba membangun beberapa hipotesis. Berdasarkan kegalauan karena dikatakan gak gaul di atas, maka hipotesis dari penelitian ini adalah:

H1: Diduga bahwa variabel ‘penulis gak suka Peterpan’ dan variabel ‘penulis anak rumahan’ secara bersama-sama akan mempengaruhi status ‘anak gaul’ secara signifikan.
H2: Diduga bahwa penulis telah menyakiti sejarah permusikan Indonesia karena tidak menyukai produk dalam negeri.
H3: Diduga bahwa si tetangga memang memiliki sindrom ceplas-ceplos sehingga tidak sadar bahwa tuduhannya cukup nyelekit bagi siswa kelas 3 SMP yang mana ingin dianggap sedang gaul-gaulnya.
H4: Diduga bahwa variabel ‘penulis terlalu lebay karena mengungkit-ungkit permasalahan di masa lampau’ adalah variabel yang paling dominan yang mempengaruhi penelitian ini.
H5: Diduga bahwa penulis mengusung nama NOAH karena ingin meningkatkan trafik blog yang terbengkalai.

Oke, saya cukup paham dengan definisi gaul versi anak sekolah dengan versi KBBI. Ada perbedaan arti di sana. Dan kalau dipikir-pikir, dari kedua versi itu, saya tetap merasa bukan orang gahol, mamen...
Masalahnya, saya jadi berpikir, ternyata kita begitu mudahnya melabelkan seseorang hanya dengan sekali lirik saja. Seperti halnya tetangga yang mengatakan saya tidak gaul karena tidak satu selera dengan dia, saya pun lumayan sering berperilaku seperti itu terhadap orang lain. Dan ada beberapa orang yang pernah menjadi korban saya. Di antaranya adalah:

1. Eka Cahya Olista Constantia
Kenapa namanya lengkap banget? Karena ada beberapa Eka yang pernah mampir di kehidupan pertemanan saya. Jadi, kesan pertama waktu ketemu Eka tuh, “Gila… ini cewek jutek amat. Sombong ini pasti.” Begitu pula setelah beberapa kali pertemuan, saya dan Eka masih sama-sama diem. Palingan kalo ada beberapa hal yang bisa ‘dibasa-basikan’ kita baru bisa ngobrol. Well, kita ini sama-sama bukan tipe ice-breaker yang bisa wesheweshewes ngomongin banyak hal dengan orang-orang baru. Dan ternyata, setelah kenal lama dengan Eka, dia berbeda sekali dengan kesan pertama saya. Eka yang saya anggap jutek dan sombong itu ternyata gampang sekali tersentuh. Kita bisa jalan kaki menyusuri pecinan sambil nangis berdua saat melihat kakek-kakek yang sudah begitu tua tertatih-tatih membawa beban berat di punggungnya. Kita bisa merenung sedih ketika melihat kakek penjual kacang godog di alun-alun yang tangannya gemetaran ketika menjajakan dagangannya karena sudah tidak layak lagi bekerja.
Saya tahu akan banyak orang tersentuh menyaksikan hal-hal itu. Tapi percayalah, hanya dengan Eka saya pernah menangisi orang lain yang benar-benar orang lain.
2. Dila
Saya ingat sekali waktu awal-awal kuliah, Dila ini sering dianggap bergaya karena dia ngomong gue-elo di areal kampus. Saya sadar sih, di kota kecil setara Magelang, penggunaan gue-elo memang terdengar tidak lazim. Tapi untuk hal itu, terus terang saya gak ikutan berkomentar, karena… yah, setidaknya Dila tidak merugikan atau menyakiti hati orang lain (Berbeda dengan Eka, sikap juteknya sempat bikin saya sakit hati). Hingga pada suatu sore, saya dan teman masih terjebak di perpus fakultas karena ada tugas yang belum bisa kami selesaikan. Waktu itu Dila mendatangi kami, lalu nanya kenapa belum selesai, ada kesulitan gak, bagian mana yang gak kami mengerti. Dan dengan telatennya dia ngasih tahu kami, dia juga mendebat beberapa pendapat saya dengan alasan yang kuat dan benar. Sampai akhirnya saya dan teman sama-sama paham.
Saat di jalan pulang, teman saya langsung bilang, “Ternyata Dila baik, ya.” Tentu saja. Baik banget malah. Dila gak cuma basa-basi menawarkan bantuan, tapi dia membantu kita SUNGGUH-SUNGGUH, SAMPAI TUNTAS!
Dari situ, saya belajar… bahwa saya memang tidak perlu mengeluarkan statemen buruk tentang orang lain hanya karena satu hal kecil yang mengganggu pandangan saya. Saya tidak bisa mengatakan bahwa seseorang tidak keren karena dia penggemar boyband/girlband dan bukannya suka Avenged Sevenfold (mereka salah satu yang sering saya hujat -___- maafkan saya ya… gak lagi-lagi deh, suwer!) Saya tidak bisa kowar-kowar bahwa seseorang terkesan norak karena dia suka musik dangdut, atau dia kelihatan sombong karena jarang tersenyum, toh bisa jadi dia gak senyum karena memang dasarnya pemalu. Intinya, meski saya masih sering melakukan kesalahan seperti di atas, tapi saya akan berusaha jauh lebih keras untuk meminimalisirnya. Semoga ke depannya, saya bisa lebih lihai menghadapi hal-hal tersebut. Semoga saya tidak menambah daftar panjang korban-korban tidak bersalah yang pada akhirnya justru saya sesali sendiri. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Kamis, 04 Juli 2013

Makanya Belajar!

Diposting oleh Wulan Mardianas di 23.27 0 komentar
Saya ingat ketika dulu… dulu sekali, beberapa orang sering berpesan, “Sekolah yang tinggi! Jangan seperti bapak. Bapak tidak sekolah, setelah tua rasanya menyesal.” Dan benar saja. Itulah yang saya rasakan akhir-akhir ini. Menyesal. Astaghfirullah… iya, menyesal! Jujur saya tidak tahu dengan serentetan kejadian yang membuat saya merasa digempur dengan penyesalan belakangan ini. Kenapa saya harus ‘dipertemukan’ dengan orang-orang ini? Kenapa, Tuhan? Dan sialnya lagi, ternyata saya SUDAH menyesal bahkan sebelum merasakan masa tua. Saya juga tidak menyesal karena tidak bersekolah. Saya menyesal karena satu hal yang saya rasa jauh lebih penting dari sekolah. BELAJAR!

Seandainya dulu saya belajar sungguh-sungguh… seandainya saya tidak terlalu malas… seandainya saya, ah sudahlah!

Semua berawal ketika saya menemukan blog-nya Mbak Orissa, pacar dari pemenang Stand Up Comedy Indonesia season 2, Bang Ge Pamungkas. Bukan maksud saya buat jadi penguntit, saya hanya… yah, saya suka membaca salah satu entri tentang anjingnya yang meninggal. Karena tulisannya asyik, saya ketagihan buat ‘ngemil’ lebih banyak lagi. Hingga pada akhirnya saya mengetahui suatu kenyataan. Kenyataan yang terus terang bikin saya sesak napas selama berhari-hari; Mbak Orissa pernah bekerja di Jerman ketika usianya masih 22. Wow. Biar saya ulang sekali lagi. WOW! Dan, marilah menilik dengan sisa-sisa 22 yang saya miliki, saya masih sempoyongan berkutat dengan skripsi! Tidak, tidak, saya tidak bercanda. Ketika Mbak Orissa sudah menjelajah negara-negara di Eropa, saya MASIH BELUM MELAKUKAN APA-APA!!! Saya benar-benar NOL BESAR! Bangunlah, Wulan… Cepat sadar!

Dua kata buat Mbak Orissa; merdeka dan smart.

Kemudian pengalaman-pengalaman hebat──yang menyesakkan─lainnya bertubi-tubi mengacaukan hari-hari saya. Yakni ketika saya tersasar di website DBL (Development Basketball League). Kenyataan bahwa saya  tidak pernah merasakan kemenangan yang berarti selama 22 tahun ini membuat saya cukup sensitif. Jadi tidak salah bila saya bisa menangis hebat ketika melihat Bagas dinobatkan menjadi pemenang Idola Cilik──abaikan! Ketika itu trenyuh sekali membaca dan mengamati foto-foto cewek SMA berbaju basket yang menyuguhkan kemenangan tim mereka di hadapan 10.000 penonton. Ya ALLAH… keren sekali. Belum lagi waktu saya menemukan pemenang penulis artikel dan fotografer terbaiknya, membuat saya tercenung lama sambil bertanya dalam hati: Apakah saya menghabiskan masa-masa sekolah dengan berbagai prestasi? Sayang sekali, saya tidak.

Dan malam ini, saya meluncur ke blognya Mbak Titish AK, yang merupakan penulis teenlit A Little White Lie (sudah sampai cetakan ke-13 dan sudah dibuat FTV) lagi-lagi saya merasa tertampar. Malu, sesek, miris. Dan satu lagi, menyesal. Mbak Titish AK yang merupakan alumni Sastra Indonesia UGM ini ternyata pernah mengikuti summer school di Belanda, dan jalan-jalan di beberapa kota di Eropa. Mbak Titish yang orang Jogja pernah merasakan udara di Eropa dan tentu saja itu gratis. Gratis, mamen... Jadi ceritanya, Mbak Titish ini mengikuti kompetisi menulis di blog dan menjadi salah satu juara yang akhirnya diterbangkan ke sana. Lagi-lagi saya tergugu, kali ini dengan wajah membersut. Saya jadi paham, ternyata ‘kewajiban’ penulis itu bukan hanya menulis. Tapi juga cerdas. Seperti Mbak Titish. Muda, cerdas, dan pintar.

Lalu, apa yang sudah saya kerjakan selama bertahun-tahun ini? Saya tipikal orang santai dari sekian banyak siswa-siswa santai lainnya. Saya tidak suka pelajaran di sekolah, saya tidak suka mempelajari sesuatu yang tidak ada signifikansinya terhadap kehidupan, saya malas! Tapi sekarang, setelah dua puluh dua tahun, saya merasa ‘dikunyah’ habis-habisan dengan kebiasaan buruk tersebut. Ya, saya pantas mendapatkannya!

Seandainya bisa kembali ke masa-masa SD, saya tidak akan mengeluh bila harus mengurangi jatah kelayapan ke sungai dan manjat pohon jambu milik tetangga untuk belajar lebih serius. Seandainya bisa kembali menjadi anak SMP, saya akan mati-matian belajar Fisika, Matematika, Bahasa Inggris dan pelajaran lain yang sempat bikin alergi. Seandainya ada kesempatan untuk mengulang masa SMA, saya akan dengan senang hati bercapek-capek mengikuti kegiatan eskul. Atau paling tidak, saya tidak boleh terlalu malas membaca. Dan menulis dengan benar-benar ‘benar’.

Saya benci menjadi gadis 22 tahun yang tidak bisa casciscus berbahasa Inggris. Saya benci menjadi gadis 22 tahun yang tidak memiliki prestasi. Saya benci menjadi gadis 22 tahun yang tidak ke mana-mana.

Bagi kalian yang masih SMP, masih SMA, masih unyu-unyu dan sedang aktif-aktifnya, banyaklah belajar. Belajar apa saja. Belajar SEMUANYA. Percayalah, tidak akan ada yang sia-sia dengan pelajaran-pelajaran membosankan itu. Ayo segeralah buka buku, tingkatkan nilai, eksplor kemampuan kalian. Selagi masih sempat, selagi masih sangat muda, selagi masih punya wadah. Agar tidak ada penyesalan di umur 22. Ya, seperti saya.

Dan bagi saya sendiri, saya berterima kasih kepada Allah yang telah mempertemukan saya dengan tokoh-tokoh keren di atas. Tokoh-tokoh hebat yang inspiring sekali. Oke, di tengah-tengah rasa penyesalan ini, saya masih harus belajar.

Semoga tidak satu pun dari kita yang akan merasakan penyesalan lebih lama lagi. Satu tahun berikutnya, saya berharap sudah menjadi Wulan yang berbeda. Wulan yang sedikit lebih baik.
 

Di Bawah Gerimis Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting