Entah kenapa bahasanku--dengan diriku sendiri--akhir-akhir ini selalu terkait nikah, nikah dan nikah?
Hei?
Ada apa ini?
Semakin galau setelah menginjak usia 25. Dulu, status-status perkara jodoh dan menikah hanyalah sebatas guyonan, lucu-lucuan, sok-sok kesepian untuk mengundang komentar dan simpati padahal hidup sedang sangat asyik bersama teman-teman. Singkatnya, saat itu memang aku tahu belum ingin menikah. Setidaknya sampai usia 24 atau 25.
Ya, karena target awal menikah memang di usia itu. Meski sempat aku revisi gara-gara ada yang mengatakan, "Dulu saya menikah usia 24. Ternyata masih terlalu muda."
Juga pesan dari seorang ibu, cukup tua namun masih sangat sehat, "Bekerja saja dulu. Senang-senang mumpung masih muda. Bahagiakan diri sendiri."
Apa sang ibu pensiunan PNS itu terlihat putus asa dengan pernikahannya? Tidak. Terlepas dari, hanya permukaan yang bisa kulihat, ya.
Sepanjang hari itu, ia bercerita banyak hal soal keluarganya. Juga anak-anak dan sanak famili. Ia terlihat sangat menikmati hidup. Terlihat sehat dan bahagia. Tidak segan-segan mempraktekkan gerakan senam yang kutanyakan.
Dan pesan dari orang seperti beliau meyakinkanku bahwa aku tak perlu buru-buru menikah. Bahkan menggeser target ke usia 26.
Lain lagi dengan Mbahe, seorang nenek dengan kemampuan finansial yang terbilang mapan, yang hanya tinggal berdua bersama suami karena anak-anaknya berada di luar kota. Mbahe memang sudah melewati perjalanan hidup yang panjang dan barangkali pengalaman pernikahannya cukup getir--setidaknya itu desas-desus yang sering kudengar.
Usia pernikahan Mbahe dengan Mbah Kakung (yep, ini Mbah Kakung yang sama dengan yang aku tulis di kisah sebelumnya) terbilang langgeng. Meski entah sudah sesering apa keduanya saling menyakiti di masa kuatnya. Bahkan meski sampai sekarang hanya tinggal berdua, keduanya diam-diaman. Setiap kali masuk ke rumahnya yang besar, yang aku rasakan hanya dingin. Sepi. Bukan masa tua seperti itu yang kuharapkan. Tapi, yeah, Mbahe tidak suka keributan.
"Nggak usah nikah dulu, Mbak Wulan. Mbak Wulan masih muda. Bahagiakan keluarga dulu. Nikah itu enggak enak."
Waaaaa!
Awalnya memang enggak ingin buru-buru menikah. Menyadari kelayakan diri yang belum seberapa (baca: masih suka berantakan, males-malesan, belum pinter masak, masih labil, masih belum berilmu, masih belum seberapa membantu orang tua).
Namun, mendadak target menikah kembali ke usia semula. Dua empat, coret.
Okeh.
Dua lima!
Artinya, aku mengusahakannya tahun ini.
Jadi, gimana perasaanmu, kalau seorang gadis yang kemarin menikah itu, dulu sewaktu ia lahir, kau ikut menjenguknya.
Jadi, gimana perasaanmu, kalau teman seangkatan yang baru saja mengubah status menjadi menikah itu, beberapa tahun lalu pernah menikah. Bahkan anaknya sudah sekolah. Ia sudah menikah dua kali, sementara kau... ah sudahlah!
Jadi, gimana perasaanmu, kalau bertahun-tahun lalu, saat kau masih begitu kecil, kau bahagia sekali menyambut pernikahan salah satu tetanggamu. Kau duduk di dekat pelaminan, di hadapan para tamu tanpa rasa malu.
Dan seseorang yang menikah belum lama ini, kau tahu siapa?
Ya, anak pengantin itu.
Dan, yes! Aku mulai risau. Terlebih Bapak.
"Jadi, mana calonnya?"
Tidaaaakkkk!
Senin, 02 Mei 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar